Diskusi Daring Bahas Kebijakan Belajar di Rumah saat Pandemi Covid-19

Diskusi Daring Bahas Kebijakan Belajar di Rumah saat Pandemi Covid-19

JAKARTA - Pandemi Covid-19 tidak menghambat Direktorat Jenderal HAM Republik Indonesia dalam menyelenggarakan diskusi bertajuk "Kebijakan Belajar dari Rumah pada Kondisi Pandemi Covid-19 (Perspektif DUHAM dan Konveksi Hak Anak)". Diskusi ini dilaksanakan melalui daring (Zoom) dalam rangka menjawab dampak Covid-19 terhadap implementasi hak asasi manusia terhadap pendidikan dan anak, Senin (27/4).

Dalam diskusi tersebut terdapat 3 narasumber, di antaranya Direktur Diseminasi dan Penguatan HAM Dr. Johno Supriyanto, Supervising Council of Asian Law Students' and Association National Chapter Indonesia Cindya Mulia Kencana, dan Ketua FPSH HAM Jawa Barat Nandi yang dipandu oleh Kasubdit Diseminasi dan Penguatan HAM Olivia Dwi Ayu Q.

Dalam pemaparannya, Johno Supriyanto menegaskan, hak atas pendidikan merupakan bagian dari HAM sebagaimana tertuang pada Deklarasi Universal HAM.

"Segala fasilitas yang mendukung pembelajaran di rumah mesti dapat dinikmati oleh semua anak atau pelajar tanpa terkecuali sehingga tidak ada yang mengalami diskriminasi," kata Johno seperti dikutip dalam siaran pers Direktorat Jenderal HAM, Senin (27/4).

Johono menyadari adanya ketimpangan sarana prasarana pembelajaran melalui online khususnya jaringan di beberapa wilayah di Indonesia.

Sejalan dengan yang dikatakan Direktur Diseminasi dan Penguatan HAM, Ketua FPSH HAM Jabar, Nandi mengatakann bahwa perbedaaan sarana prasarana dalam pembelajaran antara perkotaan dan pedesaan merupakan tantangan dalam menerapkan kebijakan belajar di rumah.

"Mungkin Bandung Raya aman, tetapi teman saya yag di pelosok tidak bisa mengumpulkan UTS karena kendala sinyal," ungkap mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati itu.

Perlu diketahui bahwa sebelumnya pemerintah melalui Kementeraian Pendidikan dan Kebudayaan telah membuat Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19 yang membuat kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring (online).

Dalam implementasinya, ternyata tidak mudah. Selain terkendalanya infrastruktur jaringan, beberapa siswa/ mahasiswa juga terkendala dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru/ dosen. Hal ini disampaikan oleh salah satu mahasiswa dari perguruan tinggi di Bogor, Muhamad Husni Tamami di penghujung diskusi.

"Jujur saja, saya merasa terkendala dalam memahami materi yang disampaikan oleh dosen. Walaupun saya sudah berusaha memahaminya, tapi tidak semaksimal dengan perkuliahan secara tatap muka. Kira-kira bagaimana ya? Apakah ada solusi?" tanyanya melalui chat di platform Zoom.

Terkait kasus tersebut, Cindya Mulia Kencana menjawab, hal itu bisa saja disebabkan oleh pribadi siswa/ mahasiswanya sendiri. Karena itu berkaitan dengan pola belajar. Setiap orang pasti berbeda-beda dalam memahami materi yang diajarkan.

"Kalau saya mengatasinya dengan cara membaca materi terlebih dahulu sebelum dosen menerangkan," tutur mahasiswa Universitas Indonesia itu.

Tidak hanya itu, dilema dalam pembelajaran di rumah juga dirasakan oleh mahasiswa yang harus turun ke lapangan. Mencari data dan informasi di lapangan. Sedangkan oleh pemerintah harus #dirumahaja.

Menurut Cindya, dalam menjawab dilema itu bisa melakukan wawancara secara online. Menghubungi narasumber tidak harus bertemu secara tatap muka. Tapi bisa memanfaatkan teknologi yang ada.

Dalam diskusi ini hadir juga beberapa perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi di Indonesia juga kalangan mahasiswa. Di akhir diskusi ada salah satu peserta yang menyarankan agar dihadirkan narasumber dari guru agar tidak bias.

"Ini kan bicara soal pendidikan. Saran saya ada salah satu narasumber dari pihak guru agar tidak bias," pungkasnya. (red/hms/fpsh).

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *