Ibu Pertiwi dan Virus Penguji

Ibu Pertiwi dan Virus Penguji

Opini

Oleh: Alda Nisya (Mahasiswa Aktif Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University)

Ibu pertiwi sedang dibantai oleh sebuah virus yang sedang merajalela, membatai ribuan masyarakat dengan caranya tersendiri. Virus yang cukup licik dan lincah, kadangkala tidak disadari oleh manusia itu sendiri.

Satu minggu yang lalu, dengan kurun waktu 48 jam. Kebijakan-kebijakan turun secara cepat dan berkala dikalangan pendidikan kampus hingga perkantoran. Pada akhirnya aktivitas akademik dan pekerja kantoran hampir semua diliburkan dan dialihkan menjadi work from home.

Operator jaringan pun dengan sangat baiknya memfasiitasi konsumen (pekerja dan mahasiswa), dalam segi kuota untuk internet yang pastinya sangat dibutuhkan sekali oleh masyarakat luas terutama para akademisi dan berbagai pekerja lainnya.

Banyak pro dan kontra ketika kebijakan-kebijakan itu dikeluarkan, namun seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya virus, semua orang menerima dan mulai memahami situasi dan kondisi didalam lingkungannya sendiri. 

Selama 19 hari lamanya, sudah 50 persen provinsi terpapar oleh virus tersebut, sampai saat ini penambahan kasus positif corona terus bertambah, hinga menacapai angka 514 kasus positif corona, ini berdasarkan data yang dihimpun pemerintah sampai pukul 12.00 WIB (22/3/2020) dalam konferensi pers yang disampaikan oleh Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah terkait penanganan virus tersebut. Kebijakan dan seruan pun mulai ramai dikeluarkan dan diinformasikan. Baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Namun jengkel rasanya, ketika seruan tersebut tidak didengarkan. 'stay at home' salah satu kata yang seringkali kita dengar dan lihat dijajaran atau tagar-tagar yang terpampang sangat jelas di media sosial.

Bahkan diperdengarkan dengan pengeras suara agar masyarakat tetap tinggal di rumah untuk menjauhi keramaian. Bukan liburan tapi semua kegiatan dialihkan dalam jaringan dengan bekerja dan belajar didalam rumah. 

Problem ini sangat begitu kompleks. Banyak hal dan aktivitas yang terganggu, terutama dalam hal perekonomian, yang sering kali dijadikan alasan kuat untuk do not stay at home. 

Perekonomian di negara ini memang sedang terpuruk, apalagi dengan melihat dolar yang kian hari semakin meningkat. Sinergitas perlu dilakukan. Controlling dan pemeriksaan baik kesehatan maupun perekonomian harus terus dipantau secara merata.

Jangan sampai ibu pertiwi tumbang hanya karena virus kecil yang membantainya. Resapilah lagu “Ibu Pertiwi” yang ditulis oleh Ismail Marzuki. Pesan yang sangat mendalam tertuang pada liriknya, seolah-olah menggambarkan keadaan hari ini.

Bantulah para pahlawan kemanusiaan dengan stay at home. Melakukan aktivitas seperti biasa dalam jaringan (video meeting, chat dan free call). Jika bosan, lakukan aktivitas yang menunjang hobi (dengan catatan di dalam rumah), seperti membaca buku, memasak, belajar untuk editing, menulis, megikuti seminar online, bercengkrama dengan keluarga dan masih banyak kegiatan lain yang dapat dilakukan agar tidak mati gaya. 

Kejadian wabah corona cukup menjadi tamparan hebat, banyak hal yang dirasa harus diperbaiki. Tolong dengan sangat patuhi peraturan yang ada. Jangan terlalu egois dan keras hati dalam memandang suatu hal. Lihatlah masih ada yang peduli terhadap keselamatan anda daripada keselamatan dirinya sendiri. Bukan karena tugas yang diberi tapi karena panggilan hati.

Apresiasi terbaik penulis berikan untuk para tenaga medis yang kini sedang berjuang melawan virus nan lincah tersebut. Terimakasih sudah terus berjuang dan menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan penghuni ibu pertiwi ini. Kami yakin pengorbanan kalian tidak akan sia-sia. 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *