Mikroba Berbahaya yang Mengubah Dunia

Mikroba Berbahaya yang Mengubah Dunia

Opini

Oleh: Agita Ayu Tiara

Siapa sangka, mikroba kecil yang tak kasat mata itu menjadi makhluk mematikan dan sangat ditakuti oleh manusia. Entah sudah berapa jiwa di seluruh dunia yang melayang akibat terserang mikorba itu. Iya, mikroba ini adalah virus yang bernama corona. Tak ada yang berpikir bahwa makhluk sekecil itu berhasil memberikan dampak yang begitu besar bagi dunia. 

Dilansir dari tirto.id pada 23 Maret 2020, dalam konferensi pers di kantor BNPB Jakarta Timur,  Yurianto mengatakan bahwa ada tambahan kasus 65 orang positif, sembuh 1 orang, total 30 orang, 1 kasus meninggal total 49 orang, sehingga total kasus positif Corona menembus angka 579. Sedangkan jumlah pasien positif Covid-19 yang sembuh 30 orang dan ada 49 kasus positif yang meninggal. Melihat fakta ini, tentu saja menimbulkan keresahan dan ketakutan bagi warga Indonesia, karena virus ini dapat menyerang siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Bahkan, karena masih banyak orang yang awam tentang virus ini dan dengan ciri-ciri corona pun tak terlalu spesifik, mereka tak menyadari bahwa sebenarnya mereka sudah terjangkit virus tersebut.

Antisipasi berupa lockdown memang yang paling tepat untuk saat ini, meskipun hal ini tentu saja berpengaruh ke berbagai aspek. Ini membuktikan bahwa virus corona benar-benar berdampak bagi kehidupan.

Lalu apa saja sebenarnya pengaruh yang diberikan oleh penyebaran virus corona ini? Jika kalian sadar dan peka, lihatlah sekeliling kalian. Pola kehidupan manusia kita berubah. Social Distancing yang kita lakukan sebagai antisipasi ini mengubah cara kita bersosialisasi.

Sebelum virus ini menyerang, semua orang berlomba-lomba menciptakan teknologi-teknologi yang mutakhir yang dapat memudahkan komunikasi seseorang. Tentu saja itu hal yang positif, namun manusia adalah makhluk yang serakah dan egois. Teknologi canggih itu menumbuhkan jiwa egois mereka makin tinggi. Apa buktinya? Dilihat dari bagaimana teknologi berhasil menjauhkan kita yang dekat. Setiap perkumpulan,masing-masing individu hanya focus pada smartphone-nya. Mereka tak peka terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka menjadi individu yang berdiri sendiri, seakan tak membutuhkan orang lain.

Lalu virus ini menyerang, semua proses sosial kita terbatas. Tak ada tatap muka. Tak lagi bertukar sapa. Semua daerah lockdown.  Semua pihak beramai-ramai mencantumkan tagar #dirumahsaja. Lalu para manusia egois itu lagi-lagi mengeluh. Otak mereka mulai keruh. Mereka berkoar tentang bagaimana susahnya mereka beraktivitas dengan batas. Manusia makhluk sosial,tapi mereka tak bebas.

Coba sedikit lebih peka. Dampak virus corona ini dapat menjadi renungan bagi semua manusia. Bagaimana pentingnya sebuah kebersamaan. Berkutat pada teknologi, smartphone dan laptop mu sendiri tak sebegitu menyenangkannya. Para anak SD hingga mahasiswa mengeluh tentang bagaimana rindunya beraktivitas di sekolah maupun di kampus. Mereka tidak sadar, saat virus ini belum menyerang, mereka menyia-nyiakan kesempatan tersebut. 

Namun, sebenarnya tindakan lockdown atau social distancing  ini lebih berdampak positif pada alam kita. Jika kalian lihat di twitter maupun instagram ramai-ramai menyebarkan informasi tentang air kanal di Italy yang terlihat lebih jernih karena minimnya aktivitas manusia, polusi di China berkurang. Tau apa artinya? Alam kita sedang lelah dengan segala aktivitas manusia yang merusak. Dan ketika lockdown atau social distancing ini diterapkan, alam mulai beristirahat, alam kita kembali bernapas.

Cobalah peka, Tuhan sedang murka, karena manusia semakin serakah. Tapi, lagi-lagi cobalah peka. Murka Tuhan selalu member hikmah, meski kita sama-sama tahu, dampak negatif yang ditimbulkan dari penyebaran virus corona sangat banyak. Tapi, mari kita lihat dari sudut yang lain.

Alam kita sedikit bernapas, kita memberinya ruang.  Lockdown atau social distancing memberikan waktu kepada mereka yang tak kenal istirahat untuk dirinya karena focus untuk bekerja, memberikn waktu kepada mereka yang tak pernah berkumpul dengan keluarga, memberikan waktu kepada manusia untuk merenungi dan mengintrospeksi diri.

Selalu ada yang dapat kita syukuri dari semua kejadian atau bencana yang menimpa dunia kita. Semoga alam segera pulih dan dunia tak lagi bersedih.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *