Paradigma Baru Masyarakat

Paradigma Baru Masyarakat

Paradigma Baru Masyarakat

Oleh : Wempi Pratama

Banyak sekali literatur yang menceritakan secara rinci sejarah manusia. Dimulai dari mereka hidup, cara mempertahankan hidup, sampai pada kemajuan sosial dan ekonominya.

Dalam buku homo Deus karya Prof. Yuval Noah Harari bahwa agenda terbesar manusia terdahulu adalah tak lepas dari kelaparan, wabah penyakit, dan perang. Manusia sangat terpuruk dengan keadaan itu dan sangat merana. Ketika jutaan manusia mati akibat kelaparan, ketika puluhan juta manusia mati di Timur Tengah akibat wabah penyakit. Ketika 62,5 juta manusia mati akibat perang dunia 2. Ketika itu pulalah manusia berpikir, berusaha memecahkan masalah, berijtihad, membuat terobosan untuk bisa keluar dari problem yang sangat mengerikan itu.

Nampaknya manusia terlalu pintar, dengan dimulainya revolusi industri yang ditandai dengan lahirnya mesin uap hasil buah tangan James Watt manusia menemukan titik tolaknya untuk kemudian melawan problem yang sangat mengerikan itu.

Pada abad pertengahan manusia bisa mengatasi kelaparan ditandai dengan berkurangnya angka kelaparan di dunia. Manusia bisa mengatasi wabah penyakit ditandai dengan berkembangnya vaksinasi di kedokteran. Manusia bisa mengatasi perang dengan lobi politik, meskipun perang dingin terus berlangsung namun setidaknya bisa mencegah kematian yang sia-sia.

Jadi sejujurnya apa yang tidak bisa manusia lakukan?

Manusia mengatasi problem yang menjadi agenda besar kehidupan manusia namun manusia bisa mengatasinya.

Maka yang terjadi sekarang adalah manusia mencari agenda barunya yang lebih besar dan kadang tidak masuk akal. Namun, bagi ilmu pengetahuan itu sangat mungkin-mungkin saja. Yaaa... inilah memang, untuk mencari hal baru bagi mereka pemikir besar harus bisa berfikir secara radikal. Melepaskan sendi-sendi agama tanpa menghalangi proses berfikir.

Dalam bukunya Prof. Yuval menyebutkan bahwa agenda terbesar manusia sekarang adalah imortalitas, kebahagiaan, dan keilahian. Memang ini terdengar gila. Tapi inilah perwujudan buah pemikiran manusia ketika filsafat, Ilmu biologi dan sejarah disatukan. Ketika manusia menetapkan imortalitas sebagai agenda terbesar selanjutnya maka kesenjangan antara agama dan ilmu pengetahuan menemui titik persinggungannya.

Ketika membicarakan manusia maka kelanjutannya adalah masyarakat. Masyarakat merupakan sebuah kesatuan yang terjadi antara dua orang atau lebih manusia yang berada dalam sebuah wilayah dalam jangka waktu tertentu.

Dalam kehidupannya masyarakat mengalami dinamika yang begitu hebat yang kemudian mempengaruhi taraf hidupnya. Ketika dihubungkan dengan dialektika hegel bahwa sesungguhnya segala sesuatu itu untuk mencapai kesempurnaan maka melalui apa yang dinamakan pertentangan. Maka disana dikenal yang dinamakan tesis, antitesis dan sintesis. Ketika masyarakat terdahulu hidup dengan segala keterbatasannya (tesis) maka  masyarakat waktu itu dihadapkan dengan begitu besarnya permasalahan yang sangat berat yaitu kelaparan, wabah penyakit, dan perang (antitesis) maka pada akhirnya terciptalah masyarakat hasil revolusi industri, masyarakat yang bisa mengatasi segala pertentangan yang dihadapinya (sintesis).

Revolusi industri membawa perubahan besar terhadap dinamika masyarakat. Namun hal ini mengarahkan kepada modernisasi masyarakat itu sendiri. Terciptanya alat komunikasi mengantarkan masyarakat kepada mudahnya memperoleh informasi dari berbagai sektor. Ini artinya pengaruh globalisasi sangat kuat dan tak terbantahkan.

Masyarakat sangat terbantu dengan berbagai berita yang didapatkan dari media sosial yang ada di smartphone nya masing masing. Terlepas berita itu valid atau hoax namun khususnya masyarakat awam sangat terbantu dengan berita berita yang hadir di media sosial. Ketika masyarakat mempercayai nya dengan begitu mudah ini akan menjadi paradigma tersendiri.

Banyaknya berita yang tersaji di media sosial, entah bohong atau tidak, entah valid atau hoax, lambat laun masyarakat akan berada pada titik yang sangat membingungkan dirinya. Ketika masyarakat terlalu banyak mengonsumsi berita yang satu namun disanggah oleh berita yang lain, ketika masyarakat memahamkan sesuatu namun ditentang oleh pemahaman yang lain, ketika ketetapan hukum yang satu namun disanggah dengan ketetapan hukum yang lain, masyarakat akan berada pada posisi dimana dirinya tidak akan percaya pada berita apapun. Masyarakat tidak akan percaya pada siapapun. Yang dipercayainya hanyalah dirinya sendiri. Maka akan lahir paradigma baru dimana masyarakat hanya akan percaya pada idealisme nya sendiri.

Tentunya ini sangat berbahaya bagaimana kemudian masyarakat hanya percaya pada idealismenya tentu hukum apa yang bisa mempengaruhi dirinya. Aturan apa yang bisa menggoyahkan kekuatan idealisme setiap individu.

Masyarakat akan terus bersama sama dengan paradigma barunya ini. Masyarakat tidak mempedulikan gejala gejala yang hadir ditengah masyarakat yang sejatinya mengantarkan masyarakat baru kepada apatisme yang sangat berbahaya.

Memang, ini kabar baik bagi stabilitas nasional karena sikap apatis dari masyarakat tentunya tidak akan menciptakan konflik sebagai hukum kausalitas dari gejala yang terjadi. Namun, apa kabar dengan kemajuan sebuah peradaban negara bahwa kemudian sifat kepekaan dan daya nalar kritis  masyarakat terhadap gejala yang ada sangat dibutuhkan untuk memerankan fungsi social control-nya terhadap keadaan negara.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *